BPBD Tabanan siapkan Rp 6 miliar untuk bencana 2026, tapi warga khawatir: apakah anggaran ini cukup menghadapi ancaman nyata?
BPBD Tabanan menganggarkan Rp 6 miliar untuk menghadapi potensi bencana tahun 2026. Meski pemerintah optimis, sebagian warga mengaku hilang harapan, mempertanyakan apakah dana itu cukup untuk mitigasi bencana yang semakin kompleks.
Dari banjir hingga tanah longsor, ancaman nyata menuntut kesiapan lebih dari sekadar angka di anggaran. Hilang Harapan ini merangkum strategi BPBD, tantangan yang dihadapi. Dan reaksi masyarakat terhadap rencana besar yang bertujuan melindungi nyawa sekaligus menjaga ketahanan daerah.
BPBD Tabanan Siapkan Anggaran Rp 6 Miliar Hadapi Bencana
Rabu (8/4/2026) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan menganggarkan sekitar Rp 6 miliar dari Anggaran Pendapatan. Dan Belanja Daerah (APBD) 2026 untuk penanganan kebencanaan. Anggaran ini ditujukan untuk kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang yang sering terjadi di daerah itu.
Sebagian dari anggaran tersebut, sekitar Rp 1,5 miliar, telah diajukan pencairannya untuk menangani peristiwa bencana yang terjadi antara Desember 2025 hingga Maret 2026. Ini termasuk penanganan langsung di lapangan yang sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Kalaksa BPBD Tabanan, I Nyoman Srinada Giri, menyebutkan bahwa dana ini juga akan dipakai untuk pemeliharaan dan pengadaan sarana. Serta prasarana yang dibutuhkan petugas di lapangan agar respons terhadap bencana lebih cepat dan efektif.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Rincian Penggunaan Dana Kebencanaan Di Lapangan
Dana kebencanaan yang disiapkan tidak hanya digunakan untuk penanggulangan pasca‑bencana, tetapi juga untuk mitigasi dan persiapan menghadapi ancaman yang terus muncul. Misalnya, anggaran dialokasikan untuk memperbarui alat berfungsi yang selama ini kurang optimal.
BPBD mencatat bahwa sejumlah alat seperti gergaji mesin (chain saw) yang semestinya membantu membersihkan pohon tumbang, pernah menunjukkan kendala teknis saat digunakan di lapangan sehingga perlu penggantian atau pemeliharaan. Keberadaan alat yang andal menjadi kunci respons cepat.
Selain itu, gadaian juga diproyeksikan untuk pengadaan perahu karet dan pompa air berukuran besar yang efektif untuk evakuasi dan penanganan banjir. Terutama di wilayah rawan yang sering tergenang saat curah hujan tinggi.
Baca Juga: Terungkap! KPK Siap Bongkar Skandal Korupsi Fadia Arafiq, 63 Pejabat Terjerat!
Ancaman Bencana Yang Masih Mengintai Tabanan
Wilayah Tabanan sepanjang beberapa bulan terakhir menghadapi tekanan bencana alam akibat cuaca ekstrem. Data internal BPBD memperlihatkan munculnya puluhan titik kejadian bencana setiap bulannya, termasuk banjir dan tanah longsor yang masih menjadi ancaman utama.
Pada Januari 2026 sempat tercatat 36 titik kejadian bencana, diikuti dengan 31 titik di Februari dan sekitar 28 titik di Maret, yang menunjukkan tingginya frekuensi kejadian berbasis cuaca. Tren ini dinilai menjadi indikator bahwa kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan.
Fenomena ini terjadi di tengah pola curah hujan yang tinggi, sehingga memperbesar potensi longsor di lereng dan banjir di dataran rendah. Tingkat ancaman yang tinggi ini mendorong kebutuhan anggaran yang lebih besar untuk manajemen kebencanaan yang efektif.
Tantangan Dan Hambatan Dalam Penanggulangan Bencana
Meski anggaran sudah dialokasikan, tantangan nyata tetap ada di lapangan. Salah satunya adalah kebutuhan peremajaan alat yang sering kali menunda respons karena kurangnya sarana yang memadai. Sebagian peralatan yang dimiliki sudah menua dan perlu diganti.
Hambatan lain adalah keterbatasan staf dan tenaga teknis dalam menangani kejadian bencana berskala besar secara simultan. BPBD harus terus mengandalkan koordinasi dengan instansi terkait dan relawan guna memastikan tanggap darurat dapat berjalan serentak di berbagai titik.
Selain itu, proses administrasi pencairan dana memerlukan persetujuan lebih lanjut dari pemerintah daerah. Yang kadang memakan waktu sehingga respons terhadap bencana tak bisa cepat segera optimal seperti diharapkan.
Reaksi Publik Dan Harapan Masyarakat
Reaksi warga setempat beragam atas alokasi dana ini. Sebagian masyarakat menyambut positif langkah BPBD karena anggaran menjadi bukti pemerintah daerah memperhatikan kesiapsiagaan bencana yang mereka alami setiap musim hujan.
Namun ada juga suara yang mempertanyakan apakah angka Rp 6 miliar cukup dalam menghadapi ancaman bencana yang intens dan luasnya wilayah yang rentan di Tabanan. Mereka berharap ada peningkatan anggaran di masa mendatang agar tanggap darurat lebih kuat.
Beberapa warga juga berharap keterlibatan dan sosialisasi mitigasi bencana lebih ditingkatkan sehingga masyarakat bisa lebih siap menghadapi kejadian bahkan sebelum bantuan tiba. Pendekatan preventif ini dinilai sama pentingnya dengan respon darurat itu sendiri.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari radarbali.jawapos.com