Warga Cisarua nekat kunjungi lokasi longsor meski berbahaya, mencerminkan keberanian sekaligus keputusasaan di tengah bencana.
Di tengah ancaman longsor yang masih mengintai, beberapa warga Cisarua justru memilih datang ke lokasi bencana. Tindakan ini menunjukkan keberanian yang luar biasa, namun juga menyingkap sisi keputusasaan sosial yang terjadi di tengah masyarakat terdampak.
Apa yang mendorong mereka mengambil risiko besar ini? Simak ulasannya berikut di Hilang Harapan.
Warga Cisarua Datangi Lokasi Longsor Meski Berbahaya
Hujan deras menyelimuti kaki Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, disertai kabut tebal yang membatasi jarak pandang. Suhu dingin semakin menyulitkan aktivitas di lapangan.
Akibat cuaca ekstrem, tim SAR gabungan sempat menghentikan pencarian korban untuk menjaga keselamatan. Potensi longsor susulan yang tinggi menjadi ancaman serius bagi siapa pun yang berada di lokasi.
Sejak Sabtu (24/1) saat longsor menghantam permukiman Desa Pasirlangu, 80 orang dilaporkan tertimbun material longsor. Hingga Kamis (29/1/2026), tim berhasil menemukan 53 korban, dengan 40 di antaranya sudah teridentifikasi.
Fenomena “Wisata Bencana” Di Tengah Pencarian Korban
Dari kejauhan, terlihat sejumlah warga berjejer di lokasi, sebagian berdiri, sebagian berjongkok sambil merekam dengan ponsel. Anehnya, mereka bukan jurnalis profesional, melainkan warga yang sengaja datang untuk menyaksikan bencana.
Sebagian mengaku memiliki kerabat yang terdampak longsor, tetapi terlihat lebih tertarik mengamati situasi dibanding menolong atau mencari informasi resmi di posko DVI Polda Jabar.
Fenomena ini memunculkan istilah “wisata bencana”, di mana warga mendatangi lokasi rawan untuk memenuhi rasa penasaran, tanpa memperhitungkan risiko tinggi yang masih mengintai.
Baca Juga: Heboh! Permukiman Bekasi Tergenang Banjir, Evakuasi Warga Dilakukan
Peringatan Dan Upaya Pengamanan Oleh Petugas
Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, menegaskan warga dilarang mendekat ke lokasi. Pihak kepolisian bersama perangkat desa menjaga akses jalan untuk mencegah insiden tambahan akibat potensi longsor susulan.
Petugas menekankan, warga yang mengaku sebagai keluarga korban tidak boleh mengambil risiko sendiri. Prioritas utama adalah keselamatan, sementara pencarian dan identifikasi korban diserahkan pada tim SAR dan jurnalis yang memiliki tupoksi resmi.
Selain itu, kehadiran warga di lokasi bencana mengakibatkan kemacetan dan tersendatnya arus kendaraan. Ambulans dan tim SAR kesulitan bergerak dari titik bencana ke posko DVI, sehingga keselamatan korban menjadi terhambat.
Dampak Sosial Dan Kesadaran Masyarakat
Kehadiran warga secara massal menunjukkan sisi lain dari dinamika sosial, yakni kurangnya pemahaman risiko bencana. Walau niat awalnya ingin membantu atau sekadar penasaran, tindakan ini justru menambah beban petugas lapangan.
AKBP Niko mengingatkan masyarakat agar mempercayakan informasi dan liputan kepada pihak berwenang, serta tidak menyebarkan berita yang belum diverifikasi. Koordinasi yang baik antara warga dan petugas menjadi kunci agar proses evakuasi berjalan efektif.
Fenomena wisata bencana juga menyoroti pentingnya edukasi mitigasi risiko bencana. Kesadaran kolektif masyarakat, kesigapan perangkat desa, dan koordinasi lintas sektor menjadi elemen krusial untuk meminimalkan dampak buruk dan menjaga keselamatan semua pihak.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari indonesiatren.com