Tangis Di Tengah Banjir! Kisah Warga Aceh Kehilangan Segalanya Kini Bertahan Di Huntara
Tangis Di Tengah Banjir! Kisah Warga Aceh Kehilangan Segalanya Kini Bertahan Di Huntara

Tangis Di Tengah Banjir! Kisah Warga Aceh Kehilangan Segalanya Kini Bertahan Di Huntara

Bagikan

Rumah hanyut diterjang banjir, warga Aceh kehilangan segalanya dan kini bertahan di huntara dengan harapan yang tersisa.

Tangis Di Tengah Banjir! Kisah Warga Aceh Kehilangan Segalanya Kini Bertahan Di Huntara

Banjir datang tanpa peringatan, merenggut rumah, harta, dan kenangan yang dibangun bertahun-tahun. Dalam hitungan jam, kehidupan seorang warga Aceh berubah total, menyisakan puing dan kesunyian.

Kini, di tengah keterbatasan hunian sementara, ia mencoba bertahan sembari menata ulang harapan yang sempat tenggelam. Kisah Hilang Harapan ini menjadi potret keputusasaan di tengah realita sosial yang tak selalu berpihak.

Banjir Besar Menghapus Jejak Rumah Dan Kenangan

Akhir November 2025 menjadi momen yang tak akan dilupakan warga Desa Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Banjir setinggi lima meter datang tanpa ampun dan menyapu rumah-rumah hingga rata dengan tanah.

Air yang meluap tak hanya merendam perabotan, tetapi juga menghancurkan bangunan yang dibangun bertahun-tahun dengan susah payah. Dalam hitungan jam, kampung yang semula tenang berubah menjadi hamparan lumpur dan puing.

Di antara warga yang terdampak, Wani Safrianti menjadi salah satu yang harus menerima kenyataan pahit. Rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung keluarganya hilang, menyisakan kesedihan mendalam.

Bertahan Di Tengah Terik Di Kamp Pengungsian

Pasca banjir surut, Wani bersama keluarga terpaksa tinggal di tenda pengungsian darurat. Lokasinya berjarak sekitar seratus meter dari area hunian sementara yang kini ia tempati.

Selama kurang lebih satu setengah bulan, ia menjalani hari-hari di bawah panas matahari dengan fasilitas seadanya. Terpal tipis dan alas sederhana menjadi saksi perjuangan mereka bertahan.

Kondisi tersebut terasa berat, terutama bagi anak-anak yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Meski begitu, Wani berusaha tetap tegar demi menjaga semangat keluarganya.

Baca Juga: Bantahan BGN soal Anggaran MBG Rp15 Ribu per Porsi

Pindah Ke Huntara, Rasa Lega Mulai Terasa

 Pindah Ke Huntara, Rasa Lega Mulai Terasa 700

Ketika hunian sementara rampung dibangun, Wani dan warga lain akhirnya dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Sudah sekitar 20 hari ia menempati salah satu blok Huntara tersebut bersama keluarganya.

Hunian sementara itu merupakan fasilitas dari Kementerian Pekerjaan Umum yang dibangun oleh Waskita Karya. Bangunan tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan yang lebih baik dibanding tenda darurat.

Kepada wartawan pada Selasa (24/2/2026), Wani mengungkapkan rasa syukurnya karena kini tidak lagi kepanasan. Ia merasakan ruangan di dalam Huntara jauh lebih sejuk dan nyaman untuk beristirahat.

Kehilangan Mata Pencaharian Dan Rutinitas Baru

Sebelum bencana melanda, Wani masih membantu suaminya memelihara beberapa ekor kambing. Hasil ternak itu menjadi tambahan penghasilan bagi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Namun banjir besar mengakhiri semuanya dalam sekejap. Kambing-kambing mati terendam air dan kandang pun hancur tanpa sisa.

Kini aktivitas Wani lebih banyak dihabiskan untuk memasak, mencuci, dan menjaga anak-anaknya. Meski kehilangan sumber ekonomi, ia berusaha menerima keadaan dan tetap melangkah.

Fasilitas Huntara Dan Secercah Harapan

Setiap unit Huntara dilengkapi kipas angin, exhaust fan, serta ventilasi yang membuat sirkulasi udara tetap terjaga. Di setiap blok juga tersedia kamar mandi, tempat mencuci, dan akses air bersih bagi warga.

Area bermain anak dibangun di bagian depan kawasan hunian sementara. Keberadaan fasilitas itu memberi ruang bagi anak-anak untuk tetap tersenyum di tengah situasi sulit.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, sempat meninjau langsung lokasi tersebut dan berbincang dengan warga. Ia memastikan hunian sementara memenuhi standar kenyamanan dasar sambil menunggu solusi hunian permanen, sehingga para penyintas dapat menata kembali harapan yang sempat tenggelam.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari detik.com
  • Gambar Kedua dari kompas.com