Gunungan sampah di Pasar Kramat Jati jebolkan tembok, menimbulkan bau menyengat yang mencekik warga sekitar.
Pasar Kramat Jati menghadapi krisis sampah setelah gunungan menumpuk hingga merobohkan tembok. Warga terpaksa menghadapi bau menyengat dan kondisi lingkungan yang memburuk, memicu keresahan dan kekhawatiran atas kesehatan serta keselamatan sehari-hari. Petugas setempat tengah berupaya menanganinya. Dapatkan informasi lengkapnya hanya di Hilang Harapan.
Gunungan Sampah Pasar Kramat Jati Jebolkan Tembok
Gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, menyebabkan tembok pembatas sisi kali jebol di dua titik, satu sekitar 10 meter dan satu 2 meter. Sampah yang menumpuk mendorong struktur tembok hingga runtuh dan masuk ke permukiman warga. Situasi ini terlihat sejak awal hingga pertengahan Maret 2026. Warga setempat mengatakan tembok besar yang jebol sudah berlangsung sekitar dua bulan. Sementara titik tembok lain baru rusak akhir‑akhir ini karena tekanan tumpukan sampah.
Tumpukan limbah pasar menunjukkan volume yang sangat besar dan berdekatan dengan permukiman warga. Beberapa bagian tembok yang jatuh masuk ke saluran air di belakang area pembuangan. Kondisi ini menjadi perhatian warga sekitar karena limbah terlihat tidak kunjung terangkat dan terus menumpuk di area yang sama.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Keluhan Warga Mengenai Bau Dan Lingkungan
Warga di sekitar pasar mengeluhkan bau menyengat dari gunungan sampah yang terus menumpuk di lokasi pembuangan utama. Aroma tak sedap itu terasa kuat setiap hari bahkan sampai ke jalan permukiman. Beberapa warga menyatakan kekhawatiran karena bau limbah sangat mengganggu aktivitas harian mereka, terutama saat cuaca panas meningkatkan intensitas bau busuk.
Penumpukan sampah yang mengeluarkan bau juga dianggap berpotensi merusak kualitas udara di kawasan permukiman dekat pasar. Keluhan warga semakin meningkat karena sampah yang menumpuk bukan hanya organik, tetapi juga limbah lain yang turut memperburuk kondisi lingkungan.
Baca Juga: Mengejutkan! Pemerintah Mulai Proyek Rusun Di Lahan Strategis Senen Mei 2026
Penyebab Penumpukan Sampah
Menurut laporan sebelumnya, gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati sudah menjadi masalah lama yang dipicu oleh berkurangnya armada pengangkut dari Dinas Lingkungan Hidup. Kapasitas pengangkutan limbah yang kurang memadai membuat volume sampah yang dihasilkan pasar mencapai 120 hingga 150 ton per hari tidak terangkut sepenuhnya.
Penumpukan ini terjadi karena jumlah kendaraan pengangkut yang berkurang dan aktivitas pasar yang berjalan 24 jam setiap hari. Akibatnya, sampah cepat menumpuk dan bahkan menjadi tinggi sehingga memberikan tekanan besar terhadap struktur tembok pembatas yang berada di belakang TPS.
Dampak Pada Pedagang Dan Pengunjung Pasar
Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati juga merasakan dampak langsung dari penumpukan sampah ini. Banyak pembeli enggan berbelanja karena bau tidak sedap yang menyengat. Sepinya pengunjung berdampak pada omzet pedagang yang menurun drastis, dengan beberapa mengaku mengalami penurunan hingga puluhan persen.
Selain itu, gangguan kesehatan seperti iritasi atau batuk dilaporkan oleh sebagian pedagang yang berada dekat area penumpukan limbah. Pedagang mengatakan idealnya sampah diangkut secara berkala setidaknya tiga kali seminggu untuk mencegah penumpukan serta kekhawatiran kesehatan dan lingkungan.
Upaya Penanganan Dan Respons Pemerintah
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebelumnya meminta Pasar Jaya untuk segera menyelesaikan masalah sampah yang menumpuk di Pasar Induk Kramat Jati. Permintaan itu mencakup percepatan pengangkutan limbah agar tidak lagi mengganggu aktivitas pasar dan lingkungan warga sekitar.
Pihak pengelola pasar juga dikerahkan bersama DLH untuk menggunakan alat berat dan armada tambahan dalam mengevakuasi sampah yang menumpuk. Upaya penanganan ini diharapkan dapat meredakan keluhan warga dan memulihkan kondisi lingkungan sekitar secepat mungkin.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari news.detik.com