Longsor melanda Manggarai Timur
Longsor melanda Manggarai Timur

Longsor di Manggarai Timur, Evakuasi Terhambat Material Berat Dan Minim Alat

Bagikan

Longsor melanda Manggarai Timur, evakuasi korban terhambat material berat dan minim alat, membuat harapan penyelamatan semakin sulit.

Longsor melanda Manggarai Timur

Bencana longsor kembali melanda Kampung Tuwa, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur, NTT, pada Kamis (22/1/2026). Hingga Jumat sore (23/1/2026), dua korban masih belum dievakuasi dari timbunan material longsor. Peristiwa ini menyoroti tantangan besar dalam penanganan bencana di daerah terpencil, terutama akses dan ketersediaan alat berat.

Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Hilang Harapan.

Kendala Evakuasi, Material Berat Dan Keterbatasan Alat

Proses evakuasi dua korban longsor di Manggarai Timur menghadapi kendala serius. Material longsor yang menimbun kedua korban beserta rumah mereka terdiri dari batu-batu besar, pohon, dan tanah. Kondisi medan yang berat ini membutuhkan alat berat untuk dapat melakukan pemindahan material secara efektif dan aman.

Namun, alat berat yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses evakuasi belum tiba di lokasi kejadian. Keterlambatan ini menjadi faktor krusial yang menghambat upaya pencarian korban. Tanpa peralatan yang memadai, tim di lapangan hanya bisa mengandalkan cara-cara sederhana, yang tentu saja memperlambat penanganan.

Camat Lamba Leda, Vitalis Edmundus Buru Lana, mengungkapkan bahwa alat berat sedang dalam perjalanan. Namun, komunikasi dengan pihak pengirim terputus karena tidak adanya jaringan seluler di area tersebut. Situasi ini menunjukkan tantangan infrastruktur komunikasi di daerah terpencil yang memperparah kondisi darurat bencana.

Kondisi Korban Dan Upaya Pencarian

Dua korban yang masih tertimbun material longsor adalah Theresia Resem dan Yustina Mira, keduanya adalah anak perempuan dari Albina Ria. Mereka terjebak di dalam rumah yang telah rata dengan tanah akibat tertimbun material longsor. Kondisi ini membuat upaya pencarian semakin sulit dan penuh tantangan.

Vitalis Edmundus Buru Lana, yang meninjau lokasi bencana pada Jumat malam, menyatakan bahwa pencarian belum membuahkan hasil signifikan. Tim masih menggunakan peralatan sederhana seperti sekop, yang sangat terbatas kemampuannya untuk menggali material berat. Harapan besar kini tertumpu pada kedatangan alat berat.

Menurut Vitalis, pencarian dengan alat berat kemungkinan baru bisa dilakukan mulai Sabtu pagi. Selain itu, tim SAR gabungan juga telah tiba di lokasi. Kehadiran tim SAR ini diharapkan dapat memperkuat upaya pencarian dan koordinasi, meskipun keterbatasan alat tetap menjadi penghalang utama.

Baca Juga: Krisis Dunia Dan Dampaknya: Waspada Atau Terjebak Kecemasan?

Identitas Korban Terdampak Dan Kondisi Lainnya

 ​​Identitas Korban Terdampak Dan Kondisi Lainnya​​​​​

Tragedi longsor ini melibatkan empat korban dari satu keluarga. Selain Theresia Resem dan Yustina Mira yang masih tertimbun, ibu mereka, Albina Ria (49), dan adik laki-lakinya, Apri Nikalaus Acan (3 tahun), juga menjadi korban. Mereka mengalami luka-luka dan telah berhasil dievakuasi.

Albina Ria dan Apri Nikalaus Acan telah dilarikan ke Puskesmas Benteng Jawa untuk mendapatkan penanganan medis. Salah satu dari mereka dilaporkan meninggal dunia, menambah daftar pilu dari bencana ini. Keselamatan dan kondisi korban yang masih tertimbun menjadi perhatian utama saat ini.

Selain korban jiwa dan luka, dampak longsor juga menyebabkan ratusan kepala keluarga (KK) mengungsi. Sebagian besar mengungsi ke rumah-rumah warga di kampung terdekat, sementara sebagian lainnya mencari perlindungan di Kapela Stasi Meni. Situasi ini menimbulkan krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian segera.

Dampak Sosial Dan Dukungan Darurat

Bencana longsor ini tidak hanya merenggut nyawa dan harta benda, tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang mendalam. Ratusan kepala keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi. Kondisi pengungsian seringkali tidak memadai, sehingga rentan terhadap masalah kesehatan dan sanitasi.

Masyarakat sekitar dan pemerintah daerah berupaya memberikan dukungan darurat berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal sementara bagi para pengungsi. Solidaritas antarwarga menjadi sangat penting dalam menghadapi situasi sulit seperti ini. Namun, kebutuhan jangka panjang tentu membutuhkan intervensi yang lebih besar.

Pemerintah setempat, bersama dengan berbagai lembaga kemanusiaan, diharapkan dapat segera menyalurkan bantuan logistik dan medis yang memadai. Selain itu, upaya pemulihan pasca-bencana, termasuk rekonstruksi rumah dan pemulihan mata pencarian, perlu segera direncanakan untuk membantu masyarakat bangkit kembali.

Jangan lewatkan update berita seputaran Hilang Harapan serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari web.facebook.com
  • Gambar Kedua dari web.facebook.com