Banjir Rob Terjang Mataram, 800 KK Terdampak Cuaca Ekstrem
Banjir Rob Terjang Mataram, 800 KK Terdampak Cuaca Ekstrem

Banjir Rob & Luapan Sungai Jangkok Terjang Mataram, 800 KK Terdampak Cuaca Ekstrem

Bagikan

Cuaca ekstrem memicu banjir rob dan luapan Sungai Jangkok di Mataram, sedikitnya 800 KK terdampak, warga terpaksa mengungsi.

Banjir Rob Terjang Mataram, 800 KK Terdampak Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem kembali memicu bencana hidrometeorologi di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Banjir rob yang bersamaan dengan luapan Sungai Jangkok menyebabkan ratusan rumah warga terendam air. Data sementara mencatat sekitar 800 kepala keluarga (KK) terdampak akibat peristiwa tersebut.

Temukan rangkuman informasi menarik hanya di Hilang Harapan.

Banjir Rob dan Luapan Sungai

Banjir yang melanda Mataram kali ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni banjir rob dan luapan Sungai Jangkok. Pasang air laut yang tinggi menghambat aliran sungai menuju muara, sehingga air tertahan dan meluap ke daratan. Kondisi ini memperparah genangan di wilayah rendah.

Sungai Jangkok yang membelah Kota Mataram dikenal rawan meluap saat hujan lebat mengguyur wilayah hulu. Ketika debit air meningkat drastis dan bertemu pasang laut, risiko banjir tidak terhindarkan. Permukiman di bantaran sungai menjadi wilayah paling terdampak.

Warga menyebut air naik dengan cepat dalam hitungan jam. Sejumlah ruas jalan tergenang, akses transportasi terputus, dan aktivitas ekonomi lumpuh sementara. Banyak warga memilih bertahan di rumah, sementara lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman.

800 KK Mengalami Dampak

Sedikitnya 800 kepala keluarga tercatat terdampak banjir rob dan luapan Sungai Jangkok. Rumah-rumah warga terendam dengan ketinggian air bervariasi, mulai dari mata kaki hingga setinggi pinggang orang dewasa. Perabot rumah tangga dan barang elektronik rusak terendam air.

Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil menjadi perhatian utama dalam proses evakuasi. Beberapa warga terpaksa dievakuasi menggunakan perahu karet karena genangan air cukup dalam dan arus cukup kuat di sejumlah titik.

Selain kerusakan rumah, banjir juga berdampak pada fasilitas umum. Sekolah, tempat ibadah, dan sarana kesehatan ikut tergenang. Warga berharap bantuan segera disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama masa darurat.

Baca Juga: Di Tengah Lumpur Dan Harapan: Penyintas Banjir Tunggu Bangkitnya Ekonomi

Respons Cepat Pemerintah Daerah

Respons Cepat Pemerintah Daerah

Pemerintah Kota Mataram bersama BPBD, TNI, dan Polri langsung turun ke lapangan melakukan penanganan darurat. Posko pengungsian didirikan di beberapa titik aman untuk menampung warga terdampak. Logistik seperti makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan mulai disalurkan.

Petugas juga melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi Sungai Jangkok dan wilayah pesisir. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, mengingat cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung.

Selain penanganan darurat, pemerintah daerah mulai melakukan pendataan kerusakan dan kerugian warga. Data tersebut akan menjadi dasar penyaluran bantuan lanjutan serta upaya pemulihan pascabencana.

Cuaca Ekstrem Masih Mengancam

Fenomena cuaca ekstrem yang terjadi di Mataram tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim global. Pola hujan yang tidak menentu dan meningkatnya intensitas curah hujan membuat wilayah perkotaan semakin rentan terhadap banjir.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama warga yang tinggal di daerah bantaran sungai dan kawasan pesisir. Informasi cuaca dan peringatan dini diharapkan terus dipantau agar warga dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal.

Kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana. Masyarakat diminta segera melapor kepada pihak berwenang jika terjadi peningkatan debit air atau tanda-tanda banjir susulan.

Evaluasi dan Mitigasi Jangka Panjang

Peristiwa banjir rob dan luapan Sungai Jangkok menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah daerah. Penataan kawasan bantaran sungai, perbaikan sistem drainase, dan normalisasi sungai dinilai perlu segera dilakukan.

Selain infrastruktur, edukasi kebencanaan kepada masyarakat juga menjadi hal penting. Pemahaman tentang risiko banjir dan langkah penyelamatan diri dapat mengurangi potensi korban saat bencana terjadi.

Dengan mitigasi yang tepat dan kolaborasi semua pihak, diharapkan kejadian serupa tidak terus berulang. Cuaca ekstrem memang tidak dapat dihindari, namun dampaknya dapat ditekan melalui kesiapsiagaan dan perencanaan yang matang.

Jangan lewatkan update berita seputaran Hilang Harapan serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari detikcom
  2. Gambar Kedua dari ANTARA News Mataram