Banjir yang melanda Pekalongan selama 18 hari menyebabkan logistik menipis, dapur umum terancam, dan warga menghadapi risiko kesehatan serius.
Bencana banjir di Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, telah memasuki hari ke-18 tanpa tanda surut. Situasi ini memperparah kondisi warga sekaligus menimbulkan krisis logistik dan ancaman serius terhadap kesehatan. Curah hujan tinggi yang terus-menerus menjadi faktor utama yang menghambat penanganan banjir, menambah penderitaan masyarakat setempat.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Hilang Harapan.
Banjir Tak Kunjung Surut, Kondisi Memburuk
Camat Tirto, Siswanto, mengungkapkan bahwa debit air sempat menunjukkan penurunan dalam dua hari terakhir. Namun, harapan tersebut sirna ketika hujan deras kembali mengguyur, menyebabkan ketinggian air kembali naik secara signifikan. Kondisi ini membuat upaya pemulihan semakin sulit dan memakan waktu.
Desa Mulyorejo menjadi wilayah yang paling parah terdampak, dengan ketinggian air kini mencapai pinggang orang dewasa. Sebelumnya, air sempat surut hingga setinggi paha, namun hanya dalam semalam, genangan air kembali meninggi. Perubahan drastis ini menunjukkan betapa rentannya wilayah tersebut terhadap curah hujan ekstrem.
Hingga saat ini, jumlah pengungsi di lokasi-lokasi penampungan masih relatif sama dengan hari-hari sebelumnya, meskipun ada penambahan sekitar 10 orang di lokasi Dupantex. Total pengungsi diperkirakan mencapai sekitar 1.200 jiwa, menandakan skala pengungsian yang cukup besar dan kompleksitas penanganannya.
Logistik Menipis, Dapur Umum Terancam Berhenti
Kondisi logistik untuk warga terdampak semakin mengkhawatirkan. Bantuan mendesak diperlukan untuk menyuplai dapur umum kecil swadaya masyarakat yang tersebar di berbagai desa. Dapur-dapur ini menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan pangan bagi ribuan jiwa yang terdampak banjir.
Koordinator Posko Darurat Desa Mulyorejo, Sania, melaporkan bahwa stok sembako di posko darurat hampir habis setelah penyaluran tahap kelima pada Rabu (4/2/2026). Dengan sekitar 3 ribu jiwa warga terdampak, di mana 300 di antaranya mengungsi dan sebagian besar memilih bertahan di rumah, kebutuhan pangan menjadi sangat mendesak.
Relawan saat ini mengoperasikan empat dapur umum mini untuk memenuhi kebutuhan makan warga yang tersebar. Namun, keberlanjutan operasi dapur-dapur ini terancam berhenti apabila tidak ada bantuan lanjutan dalam waktu dekat. Situasi ini menuntut respons cepat dari berbagai pihak untuk mencegah krisis pangan.
Baca Juga: Mushodiq, Mantan Guru dan Dosen, Kini Jualan Majalah di Halte TransJakarta
Ancaman Kesehatan Mengintai Warga
Banjir yang tak kunjung surut sejak 18 Januari 2026 ini juga mulai berdampak serius pada kesehatan warga. Genangan air yang berlangsung lama menjadi sarang penyakit dan meningkatkan risiko penyebaran infeksi. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus dari tenaga medis dan penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai.
Sania menyebutkan bahwa sejumlah warga telah dievakuasi karena mengalami gangguan kesehatan. Penyakit-penyakit seperti muntaber, gatal-gatal, demam, dan flu mulai banyak menyerang warga, mulai dari anak-anak hingga lansia. Ini adalah indikator jelas dari dampak buruk sanitasi dan lingkungan yang tercemar akibat banjir.
Masyarakat sangat berharap adanya penanganan lanjutan, termasuk bantuan kesehatan yang komprehensif. Mengingat genangan air yang berkepanjangan, risiko timbulnya dampak kesehatan yang lebih serius sangat tinggi. Upaya pencegahan dan penanganan medis harus menjadi prioritas utama dalam situasi darurat ini.
Banjir Juga Melanda Desa Pait
Selain Kecamatan Tirto, banjir juga kembali merendam Desa Pait, Kecamatan Siwalan, setelah hujan deras sejak kemarin hingga Kamis dini hari. Ratusan rumah terendam air setinggi 30 hingga 50 sentimeter, menambah daftar panjang wilayah yang terdampak parah.
Sebanyak 129 warga dari Dukuh Tugurejo, Babadan, dan Grabyag telah dievakuasi ke tiga posko pengungsian. Kasubsi Penmas Sihumas Polres Pekalongan, Ipda Warsito, menyatakan bahwa evakuasi dilakukan sejak pukul 05.00 WIB oleh personel gabungan TNI-Polri, Tagana, SAR, dan PMI. Prioritas utama evakuasi adalah lansia, anak-anak, dan warga dengan kondisi khusus.
Para pengungsi ditempatkan di Posko Lokatex Pait (79 orang), UPT Dindik Siwalan (36 orang), dan Posko Kecamatan Siwalan (14 orang). Distribusi pengungsi ini dilakukan untuk memastikan mereka mendapatkan tempat yang aman dan memadai selama masa darurat.
Jangan lewatkan update berita seputaran Hilang Harapan serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari matanusantara.co.id