Dinding SD Garoga yang tersisa setelah banjir bandang menjadi guru bisu, menyampaikan pelajaran pahit tentang bencana.
Pada 25 November 2025, banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan Garoga, meninggalkan kehancuran pilu. Sekolah Dasar Negeri 100714 Garoga, dulunya mercusuar pendidikan, kini hanya puing. Namun, di tengah reruntuhan, sebuah dinding kecil tetap tegak, seolah menolak menyerah pada amukan alam. Dinding itu menyimpan kisah, harapan, dan pesan lingkungan yang kuat.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Hilang Harapan.
Saksi Bisu Kehancuran, Dinding Berlukis Pemandangan
SD Negeri 100714 Garoga, yang terletak di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kini tinggal kenangan. Bangunan sekolah itu lenyap, tertimbun material bencana yang mengerikan. Tumpukan kayu gelondongan, jutaan kubik pasir, lumpur, dan puing-puing kini menggantikan ruang-ruang kelas yang dulu riuh dengan tawa dan celoteh anak-anak.
Namun, satu-satunya yang tersisa adalah dinding kokoh yang dihiasi lukisan pemandangan danau. Lukisan itu menampilkan pepohonan rindang, air biru yang menenangkan, dan suasana desa yang asri. Kontras mencolok antara warna cerah lukisan dan abu-abu kehancuran di sekitarnya menciptakan pemandangan yang mengharukan dan penuh makna.
Lukisan ini seolah mengirimkan “sinyal” yang sunyi namun kuat: sebuah pesan mendalam tentang pentingnya menjaga lingkungan. Ironisnya, pesan ini muncul di tengah kehancuran yang justru diakibatkan oleh alam yang kehilangan keseimbangannya. Dinding ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan konsekuensi dari pengabaian terhadap alam.
Pesan Peringatan Dari Masa Lalu
Di dekat dinding berlukis indah itu, tampak pula puing-puing yang masih menyimpan tulisan. Kalimat “Selamat belajar di SD Negeri 100714 Garoga” kini terasa getir, sebuah salam terakhir dari sekolah yang telah tiada. Tulisan ini berdiri di antara kehancuran, menjadi simbol dari masa lalu yang cerah, kini telah terkubur dalam lumpur.
Tidak ada yang tahu pasti berapa banyak ruang kelas atau bangku kecil yang pernah ada di sekolah ini sebelum bencana. Semua kini telah terkubur, bukan hanya oleh material alam, tetapi juga oleh ketidakpastian nasib para murid. Ketidakpastian yang menggerogoti harapan dan impian.
Lukisan di dinding itu juga menggambarkan kehidupan desa yang sejuk, asri, dan damai sebuah gambaran yang kontras dengan kenyataan hari ini. Alam yang dulu memberi kehidupan, kini berubah menjadi bencana mematikan. Pesan ini adalah pelajaran pahit tentang rapuhnya kehidupan ketika alam murka.
Baca Juga: Update Terbaru Korban Bencana Sumatera, 1.135 Tewas-173 Orang Hilang
Simbol Kerapuhan Dan Trauma, Pembelajaran Termahal
Sekolah ini bukan sekadar bangunan yang runtuh, ia adalah simbol. Simbol rapuhnya ruang aman bagi generasi muda ketika lingkungan diabaikan. Di Garoga, alam seolah memberikan pelajaran termahal, dibayar dengan nyawa, kehilangan, dan trauma mendalam bagi anak-anak yang kini kehilangan segalanya.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi mengenai jumlah siswa atau apakah ada korban hilang atau meninggal dunia dari sekolah tersebut. Banjir bandang telah menelan puluhan nyawa, merusak ratusan rumah, dan menyapu harta benda serta harapan warga. Sebagian korban bahkan masih belum ditemukan.
Trauma akibat bencana ini akan membekas dalam ingatan anak-anak Garoga. Dinding yang tersisa ini, dengan lukisannya, menjadi “guru” terakhir yang bisu, menyampaikan pesan yang terlambat didengar. Pesan bahwa menjaga lingkungan bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan demi masa depan generasi.
Guru Bisu di Tepi Jalan, Pesan Untuk Generasi Mendatang
Kini, dinding dengan lukisan danau itu berdiri bisu di tepi jalan umum. Ia adalah satu-satunya “guru” yang tersisa, menyampaikan pesan yang mendalam kepada setiap mata yang memandang. Pesan itu adalah tentang tanggung jawab kita terhadap lingkungan, agar generasi mendatang dapat belajar dan berkembang, bukan bertahan hidup dari bencana.
Di tengah lumpur dan keheningan yang mencekam, lukisan itu masih mengajar. Ia mengajarkan tentang keindahan alam yang harus dijaga, tentang konsekuensi dari pengabaian, dan tentang harapan di tengah kehancuran. Pesannya abadi, meski murid-muridnya kini entah di mana.
Dinding ini menjadi monumen peringatan, mengajarkan bahwa harmoni dengan alam adalah kunci keberlangsungan hidup. Semoga pesan dari dinding bisu di Garoga ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan demi masa depan yang lebih baik.
Jangan lewatkan update berita seputaran Hilang Harapan serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari sumut.antaranews.com
- Gambar Kedua dari detik.com