Cerita Heroik Warga Sukabumi Bikin Tembok Penahan Rp 500 Juta Hadapi Longsor
Cerita Heroik Warga Sukabumi Bikin Tembok Penahan Rp 500 Juta Hadapi Longsor

Cerita Heroik Warga Sukabumi Bikin Tembok Penahan Rp 500 Juta Hadapi Longsor

Bagikan

Di tengah hiruk pikuk informasi, sebuah bangunan tembok beton di Sungai Ciseureuh, Desa Sangrawayang, Sukabumi, mendadak menjadi sorotan.

Cerita Heroik Warga Sukabumi Bikin Tembok Penahan Rp 500 Juta Hadapi Longsor

Awalnya dituding sebagai pelanggaran lingkungan karena dianggap mempersempit aliran sungai, fakta di lapangan justru mengungkap narasi heroik tentang kegigihan warga.

Berikut ini, akan menyoroti kisah yang bukan tentang kesewenangan, melainkan upaya penyelamatan mandiri dari ancaman bencana alam yang nyata, menunjukkan betapa kuatnya semangat gotong royong dan kepedulian di masyarakat.​

Klarifikasi Tembok Beton, Bukan Pelanggaran, Tapi Penyelamat Darurat

Sebuah bangunan tembok beton di aliran Sungai Ciseureuh, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Narasi awal menuduh tembok tersebut dibangun sewenang-wenang dan mempersempit aliran sungai, menciptakan persepsi negatif tentang pelanggaran lingkungan.

Namun, investigasi langsung di lokasi pada Jumat (6/2/2026) oleh detikJabar menunjukkan fakta yang berbeda. Tembok tersebut sejatinya adalah struktur penahan tanah yang dibangun di bawah tebing yang telah tergerus parah. Kondisi rumah warga di bibir tebing sudah sangat kritis, dengan fondasi yang menggantung di atas sungai.

Warga setempat, melalui Heris Sponga, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sangrawayang, menegaskan bahwa pembangunan tembok ini adalah langkah darurat. Area yang ditembok dulunya adalah daratan yang hilang akibat banjir bandang, bukan badan sungai. Tembok ini berfungsi vital untuk menahan tanah agar tidak semakin ambles dan melindungi rumah warga.

Pengorbanan Pribadi Dan Nihilnya Solusi Pemerintah

Heris Sponga menjelaskan bahwa area yang kini menjadi lokasi tembok penahan adalah daratan yang terkikis belasan meter akibat pergeseran aliran sungai. Kondisi ini membuat beberapa rumah warga, termasuk miliknya, berada dalam bahaya serius, bahkan ada yang fondasinya sudah menggantung.

Mengecewakan, Heris mengungkapkan bahwa pemerintah setempat belum memberikan solusi konkret untuk mengatasi ancaman longsor ini. Oleh karena itu, pembangunan tembok penahan tanah (TPT) akhirnya dilakukan secara swadaya oleh pemilik lahan, Abdul Sukin alias Pak Atok, dengan biaya pribadi yang fantastis.

Pak Atok rela mengeluarkan dana hampir Rp 500 juta demi melindungi warga sekitar. Heris menekankan bahwa ini adalah bentuk pengorbanan besar untuk warga, mengingat ketiadaan intervensi dari pemerintah yang hanya melihat tanpa memberikan solusi nyata.

Baca Juga: 17 Hunian Sementara Diserahkan Untuk Warga Terdampak Longsor di Cilacap

Tembok Penahan Melindungi Aset Dan Infrastruktur Vital

Tembok Penahan Melindungi Aset Dan Infrastruktur Vital

Heris Sponga menjelaskan bahwa tembok ini murni dibangun untuk pengamanan aset pribadi dan lingkungan dari potensi bencana susulan. Ia membandingkan kondisi ini dengan bencana serupa di Kampung Kawungluwuk atau Babakan, di mana sungai berpindah jalur dan menyebabkan kerusakan parah.

Ruyatna, warga Kampung Cisaat, turut membenarkan bahwa lokasi tembok dulunya adalah area berbukit, bukan badan sungai, yang tergerus ganasnya banjir 2024. Pembangunan tembok ini menjadi penyelamat bagi sekitar delapan rumah di Kampung Ciseureuh yang terancam longsor akibat pengikisan tanah.

Camat Simpenan, Supendi, bahkan mengapresiasi inisiatif warga ini. Ia mengakui bahwa proses birokrasi anggaran pemerintah untuk penanganan infrastruktur seringkali memakan waktu lama, sehingga inisiatif swadaya masyarakat sangat membantu. Tembok ini juga krusial melindungi jembatan provinsi dan akses Geopark Ciletuh.

Dukungan Pemerintah Dan Harapan Untuk Masa Depan

Camat Simpenan, Supendi, memberikan respons positif terhadap pembangunan tembok ini, melihatnya sebagai inisiatif masyarakat yang membantu pemerintah dalam mencegah abrasi. Ia mengakui keterbatasan anggaran dan birokrasi yang memperlambat penanganan pemerintah, sehingga dukungan terhadap swadaya masyarakat adalah hal yang wajar.

Supendi menambahkan bahwa tembok penahan ini tidak hanya menyelamatkan rumah warga, tetapi juga melindungi infrastruktur vital provinsi seperti jembatan dan akses menuju Geopark Ciletuh. Kerusakan pada infrastruktur ini akan berdampak luas, sehingga keberadaan tembok sangat strategis.

Meskipun demikian, Supendi memberikan catatan penting kepada pemilik lahan. Ia berharap agar bagian atas tembok tidak dijadikan bangunan permanen. Sebaliknya, area tersebut idealnya ditanami pohon atau dijadikan ruang terbuka hijau, selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan di bantaran sungai.

Akses rangkuman informasi terbaru dan terpercaya lainnya untuk menambah wawasan Anda hanya di .


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar pertama dari detik.com
  • Gambar Utama dari herald.id