Banjir di Pati makin parah, ratusan desa terendam air tinggi, warga terdampak kesulitan beraktivitas sehari-hari.
Bencana banjir kembali melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan dampak yang semakin meluas dan mengkhawatirkan. Curah hujan tinggi yang tak henti-hentinya mengguyur wilayah ini telah menyebabkan Sungai Silugonggo meluap, menenggelamkan rumah dan lahan pertanian. Situasi ini mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah cepat dalam penanganan darurat.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Hilang Harapan.
Ekspansi Luasan Banjir Yang Mengkhawatirkan
Sejak Kamis (15/1/2026) sore, wilayah terdampak banjir di Pati terus bertambah, mengejutkan banyak pihak. Data terbaru menunjukkan bahwa kini 112 desa di 7 kecamatan telah terendam, meningkat signifikan dari sebelumnya yang hanya 90 desa. Ini menandakan eskalasi serius dalam skala bencana yang sedang dihadapi.
Salah satu area yang paling parah terkena dampak adalah Kecamatan Juwana. Akses jalan utama menuju Alun-alun Juwana terpaksa ditutup karena genangan air yang mencapai kedalaman kritis, mengganggu mobilitas warga dan distribusi logistik. Tingginya air ini membuat aktivitas sehari-hari terhambat secara drastis.
Ketinggian air di beberapa desa di Kecamatan Juwana, seperti Bajomulyo, Bumimulyo, Kedungpancing, dan Doropayung, juga dilaporkan mengalami peningkatan dibandingkan hari sebelumnya. Situasi ini menciptakan kekhawatiran besar di kalangan penduduk setempat yang terus berjuang menghadapi ancaman banjir yang berkelanjutan.
Sungai Silugonggo Sebagai Episentrum Bencana
Martinus Budi Prasetya, Kepala BPBD Kabupaten Pati, menjelaskan bahwa meskipun beberapa wilayah seperti Wedarijaksa, Tlogowungu, dan Jaken mulai surut, mayoritas area terdampak banjir saat ini terkonsentrasi di sepanjang Sungai Silugonggo. Sungai ini menjadi pusat perhatian utama dalam upaya mitigasi.
Wilayah yang semula terdampak di 20 kecamatan, kini berkurang menjadi 6 kecamatan. Kecamatan-kecamatan ini adalah Sukolilo, Kayen, Gabus, Pati, Jakenan, dan Juwana, semuanya dialiri oleh Sungai Silugonggo. Lokasi geografis ini menjadikan mereka sangat rentan terhadap luapan air.
Curah hujan tinggi yang terus-menerus menjadi pemicu utama meluapnya Sungai Silugonggo. Kondisi ini menyebabkan air sungai meluber dan merendam permukiman warga serta lahan pertanian di sekitarnya. Ribuan hektar sawah yang seharusnya menghasilkan panen, kini terancam gagal total.
Baca Juga: Kemenag Pastikan Fasilitas Ibadah Korban Banjir Pulih Jelang Ramadan
Tanggap Darurat Dan Langkah Pemerintah Daerah
Menyikapi situasi yang semakin memburuk, Pemerintah Kabupaten Pati telah secara resmi menetapkan status tanggap darurat bencana. Kebijakan ini akan berlaku selama dua minggu ke depan, guna memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi terhadap kebutuhan mendesak masyarakat.
“Status tanggap darurat bencana dari tanggal 10-24 Januari 2026,” tegas Martinus. Penetapan status ini memungkinkan pemerintah daerah untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien dan melibatkan berbagai pihak dalam penanggulangan bencana. Prioritas utama adalah keselamatan warga dan penanganan dampak.
Selama periode tanggap darurat, berbagai upaya akan dilakukan, termasuk evakuasi warga, penyediaan bantuan logistik, serta pembangunan posko kesehatan dan dapur umum. Kolaborasi antara BPBD, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi krisis ini.
Dampak Dan Seruan Kepada Masyarakat
Banjir tidak hanya merendam rumah dan lahan, tetapi juga membawa dampak kerusakan infrastruktur yang signifikan. Video yang beredar menunjukkan rumah-rumah rusak dan sampah kayu berserakan akibat banjir bandang. Kerugian material diprediksi akan sangat besar dan membutuhkan waktu untuk pemulihan.
Selain itu, risiko kesehatan juga meningkat pasca-banjir, seperti penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pernapasan. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menjaga kebersihan, dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala penyakit. Posko kesehatan siaga 24 jam.
Masyarakat diharapkan untuk selalu mengikuti arahan dari petugas BPBD dan pemerintah setempat, terutama terkait evakuasi dan jalur aman. Solidaritas dan gotong royong antarwarga juga sangat diperlukan dalam menghadapi musibah ini. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi korban.
Jangan lewatkan update berita seputaran Hilang Harapan serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari jateng.inews.id