Longsor Cisarua: 200 Marinir Siaga, Drone Dimanfaatkan Cari Anggota TNI AL Hilang
Longsor Cisarua: 200 Marinir Siaga, Drone Dimanfaatkan Cari Anggota TNI AL Hilang

Longsor Cisarua: 200 Marinir Siaga, Drone Dimanfaatkan Cari Anggota TNI AL Hilang

Bagikan

200 marinir dan drone dikerahkan untuk mencari anggota TNI AL hilang akibat longsor Cisarua, Upaya penyelamatan berjalan intens.

Longsor Cisarua: 200 Marinir Siaga, Drone Dimanfaatkan Cari Anggota TNI AL Hilang

Tragedi longsor di Cisarua tak hanya meninggalkan puing dan lumpur, tetapi juga kepanikan dan keresahan. 200 marinir bersiaga, dibantu drone, berupaya menemukan anggota TNI AL yang hilang.

Dalam situasi Hilang Harapan, kita menyaksikan potret keputusasaan yang menegaskan betapa rapuhnya manusia di hadapan bencana alam.

200 Marinir Dikerahkan Dalam Pencarian Korban Longsor Cisarua

Longsor di Cisarua, Bandung Barat, menelan korban prajurit Marinir TNI AL. Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Tunggul, menyatakan sebanyak 200 personel Marinir diterjunkan untuk mencari 19 anggota yang masih hilang. Operasi pencarian memanfaatkan teknologi drone, termal, serta anjing pelacak untuk mempercepat proses evakuasi.

Selain pencarian, Tunggul menyampaikan belasungkawa atas gugurnya empat prajurit yang sebelumnya berhasil ditemukan. Ia menegaskan bahwa TNI AL berkomitmen memenuhi seluruh hak-hak keluarga prajurit yang meninggal dunia, termasuk santunan dan pendampingan yang diperlukan. Langkah ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus tanggung jawab institusi terhadap anggota yang gugur.

Proses pencarian dilakukan dengan koordinasi ketat antarunit TNI AL, dengan menempatkan tim di titik-titik kritis area longsor. Fokus utama adalah menemukan prajurit yang masih tertimbun dan memastikan keselamatan tim pencari yang bekerja di medan berbahaya akibat kondisi tanah yang labil.

Kronologi Longsor Dan Kondisi Korban

Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, menjelaskan bahwa 23 personel Marinir menjadi korban bencana tanah longsor. Saat ini, baru empat personel yang ditemukan meninggal dunia, sementara sisanya masih dalam pencarian. Longsor terjadi ketika para Marinir sedang melakukan latihan untuk persiapan penugasan pengamanan wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Menurut Ali, hujan deras yang mengguyur wilayah Cisarua selama dua hari berturut-turut memicu pergerakan tanah. Lokasi latihan kebetulan berada di area rawan longsor, sehingga tidak hanya personel Marinir yang terdampak, tetapi juga warga setempat. Kondisi ini memperlihatkan risiko latihan di medan alami dengan kondisi cuaca ekstrem.

Selain itu, Ali menekankan bahwa tim pencarian dibekali alat berat untuk mempercepat evakuasi. Penggunaan drone dan sensor termal membantu mendeteksi keberadaan korban di medan yang sulit diakses. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan peluang menemukan prajurit yang masih hilang dengan cepat.

Baca Juga: Tragedi Longsor Di Pemalang, Dua Warga Belum Diketahui Keberadaannya

Upaya TNI AL Dalam Menangani Bencana

Upaya TNI AL Dalam Menangani Bencana 700

TNI AL telah menyiapkan prosedur khusus untuk bencana seperti ini, termasuk koordinasi dengan aparat setempat dan satuan SAR. Personel Marinir yang terlibat tidak hanya melakukan pencarian fisik, tetapi juga memastikan keamanan lokasi agar tidak terjadi longsor susulan. Setiap langkah operasional dirancang agar efisien dan meminimalkan risiko bagi tim pencari.

Selain itu, TNI AL juga fokus pada pendampingan keluarga korban. Mereka yang terdampak diberikan informasi terkini mengenai pencarian, serta dukungan psikologis. Hal ini penting mengingat situasi darurat dapat menimbulkan kecemasan tinggi bagi keluarga yang menunggu kabar anggota mereka.

Keterlibatan berbagai teknologi, seperti drone dan sensor termal, menjadi bukti modernisasi operasi militer dalam konteks bencana alam. Pendekatan ini memperlihatkan adaptasi TNI AL terhadap tantangan medan dan cuaca ekstrem, sekaligus meningkatkan efektivitas pencarian korban.

Tantangan Dan Harapan Pencarian

Medan longsor di Cisarua menghadirkan tantangan serius. Tanah yang labil, sisa hujan deras, dan risiko longsor susulan menuntut kehati-hatian maksimal. Setiap pergerakan tim pencari harus dilakukan dengan koordinasi penuh untuk memastikan keselamatan anggota tim sekaligus mempercepat evakuasi korban.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL memastikan seluruh hak prajurit yang gugur akan terpenuhi. Santunan, pendampingan, dan penghormatan terakhir menjadi prioritas agar keluarga korban merasa didukung penuh. Hal ini juga menegaskan profesionalisme TNI AL dalam menangani bencana yang menimpa anggotanya.

Masyarakat pun diimbau tetap tenang dan memberi ruang bagi operasi pencarian. Dengan kombinasi personel Marinir, teknologi drone, anjing pelacak, dan alat berat, TNI AL menargetkan pencarian berjalan cepat, efektif, dan seluruh korban dapat ditemukan. Kejadian ini sekaligus menjadi peringatan mengenai risiko latihan di medan alam dengan kondisi cuaca ekstrem.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari news.detik.com
  • Gambar Kedua dari inews.id